Kabar Terbaru :

Kebijakan Perikanan Kelautan

Ada

Teknologi

Munculnya aksi baru

Kabar Pasar Ikan

Kuliner

dua

Pengunjung

Travelling

Berkunjung ke

Latest Post

Ikan pengobat stres: Garra rufa


Makan kulit bangkai


Yang sering melakukan fish spa dan terapi ikan tentu tak asing lagi dengan Garra rufa.  Ikan ini hidup di perairan hangat, tidak memiliki gigi, dan panjang maksimal hanya 7 cm. Dia berasal dari Kangal, Turki.


Foto:  Ist.
Karena hidupnya di air dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius, ikan ini kekurangan sumber makanan plankton. Untuk itu makanannya adalah kulit-kulit kering hewan lainnya yang ada di air tempatnya hidup, seperti kulit bangkai kumbang, lalat, dan hewan lainnya. 


Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan ini akhirnya dimanfaatkan untuk pengobatan. Terapi ikan yang sering kita jumpai belakangan ini, memanfaatkan Garra rufa untuk memakan kulit-kulit kering manusia. Sel-sel kulit yang sudah mati dimakan oleh mereka, sehingga setelah terapi, kulit menjadi bersih.


Selanjutnya, pertumbuhan kulit baru menjadi lebih cepat karena kulit mati di badan sudah tanggal, dipatuk oleh ikan-ikan tersebut. Kemudian kulit pun menjadi halus. 


Manfaat lainnya selain menghilangkan kulit mati, karena berendam bersama Garra rufa ini harus di air hangat, orang akan menjadi lebih rileks. Pikiran akan lebih tenang dan sistem peredaran darah dan syaraf semakin lancar. (ang)

Sepak terjang alumnus FPIK - IPB (1)

Apakah ini bentuk sebuah kegagalan studi?
Ini adalah sebuah pertanyaan 'iseng' yang dilontarkan seorang alumnus fakultas perikanan, Adrie Nugroho, "Kalau lulusan fakultas perikanan dan ilmu kelautan tidak bekerja di bidangnya, itu pertanda keberhasilan program pendidikan atau kelemahan ya?"

BiRU sendiri tidak memvonis pertanyaan itu 'iseng' karena hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Nasional. Lagipula pemilik pertanyaan itu sendiri yang menilai bahwa itu adalah pertanyaan iseng.

Kembali ke perhatian pemerintah, tak cuma dari bidang perikanan, sudah banyak sarjana dengan jurusan spesifik lainnya, yang 'kesasar' saat bekerja. Penilaian sebagian kalangan bahwa nyasarnya mereka adalah kegagalan atau keberhasilan, masih menjadi perdebatan keras.

Pasalnya, apa yang mereka abdikan ke pekerjaan yang ditekuninya, tak sedikit yang menorehkan prestasi. Alumnus perikanan tangkap, Yulhendri Suryansyah mengatakan, karena mereka mampu menguasai semua bidang ilmu. "Kecuali bidangnyanya sendiri."

Senada dengan Yulhendri, pria lulusan ilmu kelautan ini menilai, sepanjang orang tersebut capable dan bisa survive, artinya institusi pendidikan yang bersangkutan memang melahirkan lulusan yang siap ditempatkan dimana aja. "Contohnya lulusan IPB," ungkap Teddy Munawar.

Sehingga banyak yang menganggap, itu bukanlah kegagalan. Namun seperti apa persepsi berhasil atau tidaknya sebuah ilmu yang ditimba oleh mahasiswa? Khususnya ilmu perikanan dan kelautan IPB. 

RAFIKA DARU

Karena dalam lingkungan mereka, ada sebuah komunitas yang isinya para alumnus yang menekuni pekerjaan di luar bidang ilmu yang ditekuninya selama kuliah.

Komunitas itu tenar dengan sebutan RAFIKA DARU (Rombongan Alumni FPIK Karir Kesasar Dari Jalurnya). Apa penilaian mereka tentang pertanyaan 'iseng' tersebut? Mari kita simak paparan lebih lanjut.

Mantan mahasiswa jurusan ilmu kelautan ini menilai, apapun pekerjaannya kelak, tetaplah itu sebuah keberhasilan. "Setidaknya dia pintar mencari peluang, serta memberikan peluang bagi lulusan perikanan dan kelautan yang ingin terjun dibidang itu," ujar Adi Fajar Ramly, 35 tahun.

Adapun Tety Widianingsih, yang juga mengenyam pendidikan di fakultas perikanan pada 1995 mengatakan, bahwa kuliah sebenarnya sebagai masa pembentukan cara berpikir atau pola pikir mahasiswa. "Karenanya dulu ada mata kuliah kewirausahaan. Itu diharapkan menjadi modal wirausaha, setidaknya walau ilmu perikanannya tidak diterapkan, ilmu wirausaha yang diterapkan. Jika tidak ada yang diterapkan dari keduanya, ya silahkan saja perkirakan sendiri," tukasnya.
Alumnus lainnya, Novia Adrianti serta Adi Fajar Ramly mengingatkan, apapun yang dikerjakan para sarjana perikanan setelah terjun ke masyarakat, seharusnya memberi efek positif bagi siapapun. Justru yang harus diperhatikan adalah; apa saja yang sudah mereka kerjakan di bidang perikanan dan kelautan? Sungguh terlalu bila para alumnus yang ternyata bekerja pada bidang yang sesuai dengan ilmunya, namun tidak bisa melestarikan laut dan sumberdaya di dalamnya.

Darma Saragih, pegawai negeri sipil eks alumnus ilmu kelautan mengatakan, pekerjaan apapun yang dipilih setelah lulus dari kampus akan sukses dijalani. "Syaratnya, serius di satu bidang. Pasti semua jalan akan menuju sukses, karena banyak jalan menuju Roma."

Pada dasarnya, menurut Ferdiansyah, semua pendidikan mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dan berhasil di segala bidang. "Apalagi saat saya kuliah di fakultas perikanan, sebagian biaya kuliah angkatan saya disubsidi oleh rakyat, sehingga saya berprinsip; memiliki kewajiban moril kepada rakyat," pungkasnya.

Kesimpulannya, para lulusan fakultas perikanan dan kelautan menilai indikasi kegagalan bukanlah karena mereka bekerja di luar ilmu yang ditekuninya. "Pendidikan hanya menyumbang 5% karakter karir kita, sisanya yang 95 % adalah non pendidikan," ungkap Zaenal Muhtadi, lulusan fakultas perikanan yang bekerja di Tual, Maluku Tenggara. (ang)

Indonesia jadi kuburan bagi hiu


Kebutuhan perut VS konservasi, hasilkan kecaman


Kontradiksi antara pemenuhan kebutuhan perut dan konservasi sumberdaya alam sudah menjadi isu abadi, yang kerap menjadi bahan perdebatan tiada henti. Contohnya, pemanfaatan sumberdaya hiu atau cucut. Sebagai penghasil dan eksportir produk dari keluarga besar hiu, Indonesia kerap menerima kecaman dari beragam organisasi international dan beberapa negara maju. 


Terlebih sebagai anggota Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Indonesia harus mendukung Resolusi IOTC 10/12 tentang The Conservation of The Thresher Shark (Family Alopiidae). Resolusi ini melarang kegiatan penangkapan, penyimpanan di atas kapal, pemindahaan hasil tangkapan antar kapal, pendaratan hingga perdagangan family hiu yang dikenal di Indonesia sebagai family dari hiu monyet, hiu tikus, lancuran.


Indonesia juga sering dikecam akibat praktik penangkapan hiu atau cucut yang tidak berperike-hiu-an. Beragam bukti , baik dalam bentuk foto maupun video, menunjukkan ‘keganasan’ nelayan Indonesia terhadap hiu hasil tangkapan mereka. Para fin-hunter tidak mau memenuhi palka mereka dengan tubuh ikan hiu akibat harga dagingnya yang tak sepadan, sehingga mereka hanya ‘mengambil’ sirip hiu tersebut dan melepaskan kembali tubuhnya ke laut. Tak jarang kegiatan ini dilakukan saat ikan tersebut masih dalam keadaan hidup.


Eksploitasi hiu kini ancam keberadaannya


Secara umum, sumberdaya hiu menyebar merata di seluruh perairan Indonesia, dan didaratkan di berbagai pelabuhan perikanan yang tersebar. Sejatinya, hiu (cucut) bukanlah ikan target, melainkan hasil tangkapan sampingan (by-catch) dari beberapa jenis alat tangkap seperti rawai tuna (tuna longline), rawai hanyut, rawai dasar, sampai dengan alat tangkap statis seperti jaring insang bermata jaring besar (oceanic gillnet). 


Meski begitu, seiring dengan besarnya permintaan dan peningkatan nilai rupiah untuk sirip dan minyak hiu, di beberapa tempat ikan ini menjadi target utama. Contohnya adalah armada rawai hanyut dan rawai dasar yang berpangkalan di PPI Tanjung Luar, Nusa Tenggara Barat. Kapal-kapal kayu berukuran 5 – 30 GT ini memang menjadikan hiu sebagai target tangkapan mereka. Durasi satu trip operasi penangkapan dilakukan berkisar antara 7 – 30 hari per trip. 


Meski kegiatan penangkapan dilakukan sepanjang tahun, puncak hasil tangkapan (peak season) terjadi sepanjang April sampai Oktober. Sirip (fin) tetap menjadi andalan dalam penjualan hasil produk dari hiu, meski sejatinya seluruh bagian hiu dapat dimanfaatkan seperti daging dan minyak yang berasal dari hati karnivor laut terbuas itu. 
Harga per kg sirip kering di level nelayan berkisar antara 67 - 167 US$ per kilogram, tergantung ukuran dan kualitasnya. Dengan jumlah armada yang cukup banyak, tak pelak lagi perikanan hiu merupakan salah satu tulang punggung perekonomian ribuan manusia yang terlibat di dalamnya. Mulai dari ABK kapal hingga bakul dan pekerja pengolahan sirip ikan hiu. 


Memang, tidak semua jenis hiu masuk ke dalam spesies ikan yang terancam (endangered species), namun demikian, tidaklah mudah untuk menseleksi jenis-jenis hiu yang tertangkap. Diperlukan suatu sistem pendataan akurat, agar jenis ikan yang hiu yang dikonservasikan bukanlah jenis hiu yang memang masih berlimpah dan dibutuhkan para nelayan. (FI)

Prodesic (probiotic degradable siclyc) perkecil patogen di air


Bermanfaat bagi kolam dan tambak


Satu dari beberapa kendala penting yang ada, saat melakukan budidaya di perairan tawar, adalah kondisi kesehatan air. Ini menjadi perhatian utama para budidayawan, karena sangat menentukan kehidupan ikan dan tumbuhan air.


Kandungan air yang segar dan sehat tentu melahirkan ikan dan tumbuhan air yang sehat pula. Sebaliknya, air yang tercemar memeperbesar resiko patogen atau penyakit.
Salah satu cara yang tengah dikembangkan para peneliti biokimia perairan adalah pemanfaatan probiotik unggulan. Salah satunya probiotic degradable siclyc (prodesic). Menurut salah seorang praktisi manajemen perairan, Khairul Chaniago, penggunaan prodesic telah dilakukan di kolam lele (Clarias batrachus) di Sentul, Bogor.


"Prodesic ini telah diaplikasikan di kolam lele Sangkuriang di Sentul. Kebetulan sudah berhasil panen. Kolam itu selalu kekurangan sumber air, sehingga peternak lele tak pernah menguras airnya, hanya menambah dan menambah saja, dan ternyata sukses sampai panen," ujarnya. "Tapi data FCR dan pola pertumbuhannya, serta tonase biomassnya menyusul."


Probiotik tersebut menurutnya juga telah diterapkan di sebuah perusahaan besar di Cikarang, untuk kepentingan menekan pencemaran air. 


Selain Cikarang penggunaan prodesic tersebut juga diterapkan di tempat budidaya udang di Semarang. "Semoga membantu budidaya perikanan," harap  Khairul. (ang)

Kolaborasi pengusaha besar dan koperasi nelayan


"Gerakan ekonomi rakyat berkarakter sosial", tapi faktanya?


Mari kita baca bersama kutipan dari Kompas.com berjudul, "Koperasi Nelayan Terlibat Impor Ikan", ternyata koperasi memanfaatkan celah bisnis, dengan menjadi agen impor ikan.


”Biasanya pedagang besar akan menelepon pengusaha, minta dikirim kalau ada ikan masuk (ikan impor), misalnya 10 fiber (kotak). Lalu sopir akan mengantarkan ikan itu ke pemesan. Pemesan ini kemudian mengecerkan ke pedagang kecil,” tutur Abdul Rahman. Model kedua adalah melalui koperasi pedagang ikan di Belawan. Koperasi mendapat potongan khusus 5 hingga 10 persen dari pengusaha.


Menjadi agen impor ikan? Entah dibenarkan atau tidak, tampaknya para pelaku koperasi perlu menelaah kembali prinsip dasar koperasi, terutama dua poin ini:
1. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dilakukan tidak semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi tetapi juga berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota terhadap koperasi. Ketentuan yang demikian itu, merupakan perwujudan nilai kekeluargaan dan keadilan.


2. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
Modal dalam koperasi pada dasarnya dipergunakan untuk kemanfaatan anggota dan bukan untuk sekedar mencari keuntungan. Oleh karena itu balas jasa terhadap modal yang diberikan kepada para anggota terbatas, wajar dalam arti tidak melebihi suku bunga yang berlaku di pasar.

Melaksanakan seluruh prinsip koperasi berarti koperasi mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berwatak sosial. Prinsip koperasi merupakan khas yang membedakan dengan badan usaha lain.


Hanya koperasilah yang harus di dalam kegiatannya berlandaskan prinsip koperasi. Apabila tidak melaksanakan prinsip koperasi secara keseluruhan, berarti badan usaha dan organisasi ekonomi sosial tersebut bukanlah koperasi. Pelaksanaan prinsip koperasi harus menyeluruh tidak boleh sepotong-sepotong. (ang)


(Dari berbagai sumber)







Keberadaan Tor sp.


Tor sp. menuju kepunahan?


Mengamati ikan mahseer memang sedikit membingungkan karena nyaris sama bentuknya. Beberapa nama latin yang muncul bila kita menelusuri tentang mahseer adalah Tor tambroides, Tor tambra, Tor soro, dan Tor douronensis. Apalagi selain keempat spesies di atas, ada juga jenis yang penampilannya mirip yaitu ikan batak (Neolissochilus thiennemanii).


Tor soro
Yang pasti, selain ikan ini memiliki rasa yang sangat istimewa, bentuk sisik dan warnanya sangat menarik. Kabarnya, distribusi ikan ini sekarang hanya tinggal di Sumatera dan Kalimantan, dan sebagian kecil Jawa. Dengan kata lain status ikan ini terancam punah dan sudah harus dilindungi keberadaannya.


Bahkan ikan mahseer jenis soro sudah sangat jarang terdapat di wilayah Jawa Barat, akibat penangkapan yang tidak bijak (racun, strum, dan sebagainya), hingga degradasi lingkungan. Ditambah dengan over fishing, karena hampir 50 persen warga Jawa Barat memiliki hobi mancing.


Ikan dengan nama umum silver carp ini hidup di sungai-sungai besar dan memijah di hulu sungai. Juvenil (ikan anak-anak) dan pra-dewasa banyak ditemukan di anak-anak sungai yang berbatu, berarus deras, dan berair jernih. 


Kelarutan oksigen yang tinggi dan kecerahan air diduga menjadi pembatas distribusinya, selain keberadaan makanannya. Dari 4 spesies di atas, baru jenis Tor soro yang sudah dapat dipijahkan (dibudidayakan) dengan teknologi akuakultur di Sempur, Bogor. (ang)

Anda cinta laut? Mandi Khatulistiwa dulu, Bung!


Saat kapal ada di garis Ekuator


Pada Juni 2006, saya dan awak kapal KRI Nusanive milik TNI-AL berangkat menuju Dumai. Rute kami adalah Bangka-Dumai-Bangka. 


Pada suatu ketika, komandan kapal menyatakan, kami berada di daerah yang menurut takrif ada pada garisan lintang khatulistiwa yakni 0°. Ya, daerah itulah yang disebut garis khatulistiwa. Komandan kapal pun memerintahkan semua ABK keluar dari ruang kerjanya, tak peduli sedang apa, pukul berapa, dan dalam keadaan apa.


Rupanya mereka dikumpulkan di haluan kapal tempatnya lebih yang terbuka, dan disemprot air laut. Tradisi itu mereka sebut sebagai Mandi Khatulistiwa atau mandi Equator. 


Mandi Khatulistiwa Sangat terkenal di kalangan para pelaut. Kegiatan Mandi Khatulistiwa dilaksanakan pada saat para pelaut melintasi garis khatulistiwa, kegiatan ini bertujuan untuk menyucikan para pelaut yang baru pertama kali melaut dan melewati garis Khatulistiwa atau Equator.


Ritual ini tak ada hubungannya dengan suatu kepercayaan. Kebiasaan ini hanyalah sebuah hiburan untuk para pelaut di tengah samudera luas. (ang)

Heavy Metal

Vocal Musician

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ebiru - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger