Apakah ini bentuk sebuah kegagalan studi?
Ini adalah sebuah pertanyaan 'iseng' yang dilontarkan seorang alumnus fakultas perikanan, Adrie Nugroho, "Kalau lulusan fakultas perikanan dan ilmu kelautan tidak bekerja di bidangnya, itu pertanda keberhasilan program pendidikan atau kelemahan ya?"
BiRU sendiri tidak memvonis pertanyaan itu 'iseng' karena hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Nasional. Lagipula pemilik pertanyaan itu sendiri yang menilai bahwa itu adalah pertanyaan iseng.
BiRU sendiri tidak memvonis pertanyaan itu 'iseng' karena hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Nasional. Lagipula pemilik pertanyaan itu sendiri yang menilai bahwa itu adalah pertanyaan iseng.
Kembali ke perhatian pemerintah, tak cuma dari bidang perikanan, sudah banyak sarjana dengan jurusan spesifik lainnya, yang 'kesasar' saat bekerja. Penilaian sebagian kalangan bahwa nyasarnya mereka adalah kegagalan atau keberhasilan, masih menjadi perdebatan keras.
Pasalnya, apa yang mereka abdikan ke pekerjaan yang ditekuninya, tak sedikit yang menorehkan prestasi. Alumnus perikanan tangkap, Yulhendri Suryansyah mengatakan, karena mereka mampu menguasai semua bidang ilmu. "Kecuali bidangnyanya sendiri."
Senada dengan Yulhendri, pria lulusan ilmu kelautan ini menilai, sepanjang orang tersebut capable dan bisa survive, artinya institusi pendidikan yang bersangkutan memang melahirkan lulusan yang siap ditempatkan dimana aja. "Contohnya lulusan IPB," ungkap Teddy Munawar.
Sehingga banyak yang menganggap, itu bukanlah kegagalan. Namun seperti apa persepsi berhasil atau tidaknya sebuah ilmu yang ditimba oleh mahasiswa? Khususnya ilmu perikanan dan kelautan IPB.
Pasalnya, apa yang mereka abdikan ke pekerjaan yang ditekuninya, tak sedikit yang menorehkan prestasi. Alumnus perikanan tangkap, Yulhendri Suryansyah mengatakan, karena mereka mampu menguasai semua bidang ilmu. "Kecuali bidangnyanya sendiri."
Senada dengan Yulhendri, pria lulusan ilmu kelautan ini menilai, sepanjang orang tersebut capable dan bisa survive, artinya institusi pendidikan yang bersangkutan memang melahirkan lulusan yang siap ditempatkan dimana aja. "Contohnya lulusan IPB," ungkap Teddy Munawar.
Sehingga banyak yang menganggap, itu bukanlah kegagalan. Namun seperti apa persepsi berhasil atau tidaknya sebuah ilmu yang ditimba oleh mahasiswa? Khususnya ilmu perikanan dan kelautan IPB.
RAFIKA DARU
Karena dalam lingkungan mereka, ada sebuah komunitas yang isinya para alumnus yang menekuni pekerjaan di luar bidang ilmu yang ditekuninya selama kuliah.
Komunitas itu tenar dengan sebutan RAFIKA DARU (Rombongan Alumni FPIK Karir Kesasar Dari Jalurnya). Apa penilaian mereka tentang pertanyaan 'iseng' tersebut? Mari kita simak paparan lebih lanjut.
Mantan mahasiswa jurusan ilmu kelautan ini menilai, apapun pekerjaannya kelak, tetaplah itu sebuah keberhasilan. "Setidaknya dia pintar mencari peluang, serta memberikan peluang bagi lulusan perikanan dan kelautan yang ingin terjun dibidang itu," ujar Adi Fajar Ramly, 35 tahun.
Adapun Tety Widianingsih, yang juga mengenyam pendidikan di fakultas perikanan pada 1995 mengatakan, bahwa kuliah sebenarnya sebagai masa pembentukan cara berpikir atau pola pikir mahasiswa. "Karenanya dulu ada mata kuliah kewirausahaan. Itu diharapkan menjadi modal wirausaha, setidaknya walau ilmu perikanannya tidak diterapkan, ilmu wirausaha yang diterapkan. Jika tidak ada yang diterapkan dari keduanya, ya silahkan saja perkirakan sendiri," tukasnya.
Komunitas itu tenar dengan sebutan RAFIKA DARU (Rombongan Alumni FPIK Karir Kesasar Dari Jalurnya). Apa penilaian mereka tentang pertanyaan 'iseng' tersebut? Mari kita simak paparan lebih lanjut.
Mantan mahasiswa jurusan ilmu kelautan ini menilai, apapun pekerjaannya kelak, tetaplah itu sebuah keberhasilan. "Setidaknya dia pintar mencari peluang, serta memberikan peluang bagi lulusan perikanan dan kelautan yang ingin terjun dibidang itu," ujar Adi Fajar Ramly, 35 tahun.
Adapun Tety Widianingsih, yang juga mengenyam pendidikan di fakultas perikanan pada 1995 mengatakan, bahwa kuliah sebenarnya sebagai masa pembentukan cara berpikir atau pola pikir mahasiswa. "Karenanya dulu ada mata kuliah kewirausahaan. Itu diharapkan menjadi modal wirausaha, setidaknya walau ilmu perikanannya tidak diterapkan, ilmu wirausaha yang diterapkan. Jika tidak ada yang diterapkan dari keduanya, ya silahkan saja perkirakan sendiri," tukasnya.
Alumnus lainnya, Novia Adrianti serta Adi Fajar Ramly mengingatkan, apapun yang dikerjakan para sarjana perikanan setelah terjun ke masyarakat, seharusnya memberi efek positif bagi siapapun. Justru yang harus diperhatikan adalah; apa saja yang sudah mereka kerjakan di bidang perikanan dan kelautan? Sungguh terlalu bila para alumnus yang ternyata bekerja pada bidang yang sesuai dengan ilmunya, namun tidak bisa melestarikan laut dan sumberdaya di dalamnya.
Darma Saragih, pegawai negeri sipil eks alumnus ilmu kelautan mengatakan, pekerjaan apapun yang dipilih setelah lulus dari kampus akan sukses dijalani. "Syaratnya, serius di satu bidang. Pasti semua jalan akan menuju sukses, karena banyak jalan menuju Roma."
Pada dasarnya, menurut Ferdiansyah, semua pendidikan mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dan berhasil di segala bidang. "Apalagi saat saya kuliah di fakultas perikanan, sebagian biaya kuliah angkatan saya disubsidi oleh rakyat, sehingga saya berprinsip; memiliki kewajiban moril kepada rakyat," pungkasnya.
Kesimpulannya, para lulusan fakultas perikanan dan kelautan menilai indikasi kegagalan bukanlah karena mereka bekerja di luar ilmu yang ditekuninya. "Pendidikan hanya menyumbang 5% karakter karir kita, sisanya yang 95 % adalah non pendidikan," ungkap Zaenal Muhtadi, lulusan fakultas perikanan yang bekerja di Tual, Maluku Tenggara. (ang)
Darma Saragih, pegawai negeri sipil eks alumnus ilmu kelautan mengatakan, pekerjaan apapun yang dipilih setelah lulus dari kampus akan sukses dijalani. "Syaratnya, serius di satu bidang. Pasti semua jalan akan menuju sukses, karena banyak jalan menuju Roma."
Pada dasarnya, menurut Ferdiansyah, semua pendidikan mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dan berhasil di segala bidang. "Apalagi saat saya kuliah di fakultas perikanan, sebagian biaya kuliah angkatan saya disubsidi oleh rakyat, sehingga saya berprinsip; memiliki kewajiban moril kepada rakyat," pungkasnya.
Kesimpulannya, para lulusan fakultas perikanan dan kelautan menilai indikasi kegagalan bukanlah karena mereka bekerja di luar ilmu yang ditekuninya. "Pendidikan hanya menyumbang 5% karakter karir kita, sisanya yang 95 % adalah non pendidikan," ungkap Zaenal Muhtadi, lulusan fakultas perikanan yang bekerja di Tual, Maluku Tenggara. (ang)


No comments:
Post a Comment