Kabar Terbaru :

Kebijakan Perikanan Kelautan

Ada
Home » » Tradisi buruk negara maju yang masih lestari

Tradisi buruk negara maju yang masih lestari

Tuesday, January 10, 2012 | 0 comments


Pembantaian lumba-lumba!


Di Denmark, setidaknya setahun sekali acara pembantaian massal paus dan lumba-lumba diperagakan secara terbuka oleh penduduk lokal di dekat kota Hvalvik, Faroe Island. 


Ritual itu merupakan upaya untuk meneruskan tradisi kejam warisan bangsa Viking. Mereka membunuh ratusan lumba-lumba jenis calderon yang terkenal berinteligensia tinggi dan berinteraksi baik dengan manusia, hanya demi tradisi diet yang diwariskan secara turun-temurun.


Seperti dilaporkan Reuters, penduduk di pulau yang menjadi provinsi otonomi Denmark itu membantai lumba-lumba dan memakan dagingnya. Para pelakunya kebanyakan remaja yang mulai beranjak dewasa, yang sekadar ingin menunjukkan bahwa mereka telah dewasa dan matang. 


"Semua orang ikut berpartisipasi menjadi pembunuh atau penonton, layaknya suporter olahraga," kata Andrew Schencer, seorang aktivis anti-pembantaian lumba-lumba yang pernah mengikuti ritual itu, seperti dikutip Reuters.


Tradisi serupa berlangsung di Taiji, Jepang. Di sana, sekitar 19.000 lumba-lumba dibinasakan saban tahun untuk dimakan. Para nelayan menggunakan metode perburuan yang disebut oikomi, yakni menggiring dan membunuhnya di area pantai. 


Tak sembarangan area pantai, tempat itu ialah tempat yang biasa dipakai para pelatih lumba-lumba menyeleksi lumba-lumba terbaik. Di tempat itu, lumba-lumba yang terpilih akan dibeli para pelatih seharga US$ 150 ribu!


Tak heran bila tidaklah sulit menggiring kawanan lumba-lumba ke area itu. Sayangnya, setelah lumba-lumba terkumpul, mereka dibantai hingga warna air laut menjadi merah.


Cara itu rupanya lebih terkenal dibandingkan dengan perburuan di tempat lain. Para nelayan di Taiji bahkan menganggap perburuan lumba-lumba sebagai warisan budaya yang patut dilestarikan. Sialnya, Pemerintah Jepang mengizinkan pembunuhan massal itu dengan dalih menghormati budaya setempat.


(Sumber : Reuters dan http://saveourseasint.org. Foto : http://cyber.law.harvard.edu)
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ebiru - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger