Sangat butuh kreatifitas dan kerjasama
Ledakan lele (Clarias batrachus) di Sumatera Barat membutuhkan solusi kongkrit, terutama analisis pasar dan penyebaran informasi tentang manfaat beternak lele hingga mengkonsumsi lele.
Dilatarbelakangi berita harian Kompas (121/1) bahwa harga 1 kilogram lele hanya Rp 9.000,- sementara biaya budidaya lele per kilogram mencapai Rp 11.000,- maka para peternak lele di pasar mau tak mau rugi Rp 2.000,- per kilogram.
Analisis pasar dan kreatifitas
Produksi tanpa memperhatikan pemasaran, kebanyakan memang akan bernasib seperti itu. Masalah itu, bisa jadi akibat distribusi pemasaran atau pengolahan hasil perikanan belum siap menerima estafet hasil produksi. Secara awam, mungkin bisa dikatakan mampu produksi tapi tak bisa jualan, sehingga peternak lele tetap saja miskin. Ada fase yang belum terprogram dengan baik, yakni fase penyelesaian (finishing).
Ada yang menilai bahwa sebenarnya ledakan produksi tidak akan terjadi bila bisa memprediksi kapasitas pasar untuk menyerap hasil produksi. Solusinya, perlu diversifikasi pengolahan lele, semisal lele yang bisa menjadi oleh-oleh khas. Contohnya di jadikan kerupuk lele balado khas Padang, dan lainnya.
Dukungan pihak lain, bahkan perlunya asuransi
Kejadian seperti ini memang bukan sekali di Indonesia. Bagaimanapun, petani perlu dibimbing oleh pemerintah agar mampu menjual "untung" hasil produksinya. Mungkin masalah lele ini menjadi 'sentilan-sentilun' bagi program-program pemerintah yang bertujuan menggenjot hasil produksi, baik pertanian maupun perikanan. Seharusnya program positif seperti itu didukung kerjasama yang baik dengan berbagai pihak terkait, mungkin salah satunya KKP berkolaborasi dengan Disperindang.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan dari isu bergulir ini, selain menyelaraskan program antar instansi pemerintah dan diversifikasi pengolahan produk, ialah perlu adanya semacam asuransi ataupun dana, untuk setidaknya menyelamatkan petani dari kerugian akibat over produksi.
Tanggapan pelaku ternak lele
Salah satu peternak lele asal Bogor, Kenidas Lukman Taufik mengatakan ledakan lele dan kerugian peternak sebenarnya bukan kekhawatiran utama. "Ada dua hal yang utama yang perlu di khawatirkan. Pertama, yang paling ekstrim adalah akan terjadi impor lele, kedua animo beternak lele menghilang," ujar Kenidas. Kenapa bisa begitu?
Dia menjelaskan, bila ledakan produksi lele dibiarkan tanpa ada solusi, maka para peternak lele akan jenuh bahkan jera. Alhasil pada beberapa periode kedepan akan terjadi kelangkaan lele. Bila sudah pada tahap jera karena ketidakjelasan fase finishing, mereka pun enggan lagi beternak lele, meski ada bantuan dari pemerintah untuk program perikanan. Dan pemerintah akan memenuhi permintaan lele di pasar dengan cara impor.
Kemungkinan kedua, bila hal seperti ini dibiarkan artinya pemerintah tidak pernah mengeluarkan kebijakan pemerintah yang pro usaha rakyat. "Selanjutnya, bisnis lele, bahkan bisnis perikanan mungkin lambat laun akan mati." (ang/TA)
Home »
» Ledakan produksi lele dikhawatirkan picu kembali impor
Ledakan produksi lele dikhawatirkan picu kembali impor
Friday, January 13, 2012 | 0 comments
Related Games
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment